Perkara Cessie BTN Sidoarjo Diduga Banyak Kejanggalan

Perkara Cessie BTN Sidoarjo Diduga Banyak Kejanggalan

Sidang Kasus Cassie BTN Sidoarjo

Sidoarjo–Prorakyat.co | Sidang lanjutan perkara gugatan yang diajukan Arnold Jan Mirhard kepada Ferry Wasis Gada Yakti selaku debitur BTN Cabang Sidoarjo kembali digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo, pada Kamis 26 November 2020.

Sidang ini mengagendakan bacaan gugatan oleh Majelis Hakim.
Arnold Jan Mirhard selaku Penggugat juga merupakan Cessionaris dari Cedent dalam hal ini ialah BTN Cabang Sidoarjo.

Pada sidang yang dimulai sekitar jam 10-an WIB ini, Arnold Jan Mirhard hadir Bersama Aditya, yang disebut sebagai Kuasa Hukumnya. Hadir pula perwakilan dari BTN Cabang Sidoarjo yang sebelumnya 2 kali mangkir dalam persidangan ini.


Saat sidang dimulai, pria yang mengaku Kuasa Hukum dari BTN Cabang Sidoarjo ingin membacakan pernyataan sikap mewakili BTN Cabang Sidoarjo. Namun, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo menolaknya. Alasannya, pihak dari BTN Cabang Sidoarjo tersebut tidak bisa menunjukkan Surat Kuasa Hukum.


“Jika tidak diperkenankan baca pernyataan sikap, saya keluar saja,” katanya dengan nada kesal.


Menanggapi itu, Majelis Hakim tetap tidak mengizinkan pihak dari BTN Sidoarjo membacakan pernyataan sikapnya. Hanya saja, Hakim mempersilakan dia berada di ruangan sidang.


Ketua Majelis Hakim mengatakan, sidang dengan perkara gugatan reg.nomor 286/Pdt.G/2020/PN.Sda ini dilanjutkan karena mediasi yang dilakukan belum ada titik temu untuk mengakomodir kepentingan beberapa pihak.

Dalam perkara ini, pihak itu antara lain Arnold Jan Mirhard (Penggugat), Ferry Wasis Gada Yakti (Tergugat I), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (Tergugat II).


Dalam sidang itu, dikarenakan Kuasa Hukum Tergugat I berhalangan hadir, maka sidang akan dilanjutkan pada 3 Desember 2020 dengan agenda jawaban.


“Selanjutnya pada tanggal 10 Desember 2020 agenda replik, tanggal 17 Desember 2020 agenda duplik,” kata Ketua Majelis Hakim.


Dikonfirmasi hal ini, Ferry Wasis Gada Yakti mengakui bahwa dalam gugatan yang diajukan Penggugat ini banyak sekali kejanggalan-kejanggalan. Termasuk kejanggalan saat pengalihan hak tagih (cessie).


Beberapa kejanggalan itu akan dibuktikan pada saat sidang berikutnya, yakni agenda jawaban para pihak. Satu hal yang membuat Ferry Wasis heran, sebulan sebelum cassie, dia masih membayar angsuran kepada BTN Cabang Sidoarjo, tepatnya pada Agustus 2019. Pembayaran sebesar Rp 1.110.000.


Namun pada September 2019, BTN Cabang Sidoarjo sudah mengalihkan ke orang lain atau cassie, yaitu kepada Arnold Jan Mirhard. Lebih heran lagi, sisa angsuran yang harusnya Rp 43.802.000, tapi Arnold Jan Mirhard meminta kepada Ferry untuk menebus sebesar Rp 122.638.910.


Dalam gugatan Arnold Jan Mirhard, uang sebesar Rp 122.638.910 itu secara rinci yaitu dana penebusan piutang di BTN sebesar Rp 44.638.910, fee mediasi (Rp 20 juta), biaya appraisal (Rp 5 juta), biaya akta notaris (Rp 7 juta), fee mediator investor (Rp 20 juta), surveyor lapangan (Rp 1 juta), dan fee legal gugatan wanprestasi (Rp 25 juta).


Dana sebesar itu dinilai Ferry mengada-ada. Dan proses cassie yang dilakukan oleh BTN Cabang Sidoarjo diduga tida procedural atau cacat administrasi. Ferry mengatakan, sejak awal dirinya sangat kooperatif dan terus menjalin komunikasi dengan pihak BTN Cabang Sidoarjo.


Termasuk pula pada saat kondisi usahanya sedang mengalami kesusahan. Dia juga punya itikad baik untuk sesegera mungkin melunasi angsurannya. Itikad itu setidaknya dibuktikan dengan niat Ferry menjual rumahnya supaya bisa melunasi anguran di BTN Cabang Sidoarjo.
Tetapi, di tengah angsuran itu, Ferry mengaku kaget karena digugat oleh Arnold Jan Mirhard, yang diketahui juga merupakan Direktur CV Jayatama.


Di pihak lain, dikonfirmasi terpisah, Kepala Cabang BTN Sidoarjo hingga berita ini ditayangkan masih bungkam. (*)