Partai Gelora : Politisi Perempuan Harus Memberikan Peran Signifikan Bagi Kaum Hawa

Partai Gelora : Politisi Perempuan Harus Memberikan Peran Signifikan Bagi Kaum Hawa

Farida Yulianti

Prorakyat.co - Tak dapat dipungkiri kehadiran perempuan dalam panggung politik Tanah Air makin bertambah, sejalan dengan makin banyaknya kaum hawa yang duduk di parlemen maupun memimpin suatu daerah.

Namun, menurut Politikus Partai Gelora Indonesia (PGI), Farida Yulianti, hal tersebut belum memberikan kontribusi yang signifikan bagi kehidupan kaum hawa. Pasalnya, mereka tak banyak menyuarakan isu-isu terkait dengan perempuan yang sudah sejak lama selalu terpinggirkan.

“Kuantitasnya [politisi perempuan] tidak sejalan dengan kualitasnya. Banyak isu-isu yang urgen terkait hak perempuan," katanya.

Dia menilai, tak jarang politisi perempuan hanya menjadi perpanjangan tangan dari politisi pria untuk melanggengkan pengaruhnya. Alhasil, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pun setali tiga uang dengan sebelumnya.

“Banyak [politisi perempuan] yang hanya melanjutkan peran suaminya atau mungkin orang tuanya. Sebenarnya tidak ada yang salah selama mereka berkualitas. Tetapi faktanya mereka ada di bawah pengaruh kekuasaan atau dominasi laki-laki dalam mengambil kebijakan atau menyuarakan aspirasinya,” tuturnya.

Kemudian budaya patriaki yang kental di masyarakat Indonesia juga membuat politisi perempuan dipandang sebelah mata.

Menurut Farida Yulianti yang kini menjabat sebagai Ketua DPC Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, politisi perempuan masih saja dianggap sebagai penggembira semata untuk menggalang dukungan terhadap partai politik dari masyarakat.

“Dianggap hanya gimmick saja sebagai vote gather karena cantik untuk menarik perhatian, terutama mereka yang muda. Saya pun juga sering dianggap demikian, apalagi oleh politisi senior dianggap tidak paham atau tidak tahu apa-apa. Tapi untuk di internal Partai Gelora Indonesia tidak rasanya, di luar iya,” ungkapnya.

Politisi muda yang akrab dipanggil Ning Farida ini tak takut untuk terjun Ke dunia politik dan siap dicibir. Ning Farida itu ternyata punya cara tersendiri untuk menghadapi berbagai cibiran dari politisi senior.

Dia cukup menganggap cibiran tersebut sebagai angin lalu yang tak ada faedahnya untuk direspons.

“Fokus pada isu-isu substansial, jangan terpengaruh untuk merespons yang bukan subtansial, cuma untuk meramaikan. Isu-isu substansial jika terus disuarakan dengan cepat akan mengubah awareness masyarakat,” paparnya.

Ning Farida Yulianti juga berpesan kepada kaum muda, khususnya perempuan Indonesia tak perlu ragu untuk terjun ke dunia politik. Menurutnya, berpolitik adalah cara yang tepat untuk menciptakan adanya perubahan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Jangan takut, tantangan bagi mereka yang masuk ke dunia politik di usia 40-50an [tahun] sama dengan yang masuk di usia 20an [tahun]. Sama-sama belajar dari nol,” tegasnya.

Terakhir, dia berharap agar makin banyak sosok perempuan seperti Rasuna Said yang sadar bahwa dibutuhkan perjuangan politik untuk memperjuangkan kemajuan kaum perempuan di Indonesia. (fer)